You are currently browsing the daily archive for November 1st, 2008.

: Hujan Kedua

Aku berlari terengah, setapak didepanku nampak hitam. Tubuhku bermandikan keringat. Gerimis yang turun menyentuhi daun pada pohon-pohon sebelum menghujam, jatuh seperti senja, mencumbui bumi, kemudian mati untuk melahirkan kehidupan.

Dalam nafas yang terputus sejenak, entah karena apa; pikiranku seakan meracau tentang lorong panjang dengan dinding kayu. Yang dibelakangnya ada desa kecil yang hangat dan damai. Yang malam-malam harinya dipenuhi dengung pemujaan dari surau-surau. Yang pagi-pagi harinya disambut oleh riang petani, dan lenguh kerbau.

Desa kecil dimana tawa riang hadir setiap sore, dan selimut serta dongeng-dongeng dibacakan sebelum lampu tempel dimatikan. Desa kecil yang memaksa masuk pada ingatanku yang terpotong sebagian.

Sungai

Namaku Julius. Atau, setidaknya, begitulah preman-preman pelabuhan yang dikepalai bapak angkat memanggilku. Kata bapak, aku ditemukan pada bulan Juli. Mengapung di muara sungai dengan kepala berdarah. Pingsan, kehilangan ingatan. Waktu itu umurku masih sekitar 4 atau 5 tahun. Saat akhirnya kepala preman pelabuhan dekat muara memutuskan untuk mengangkatku sebagai anak, dan membesarkanku dengan cara yang bisa dibilang jauh dari yang dapat dikatakan lunak.

Bapak mengajariku berkelahi, mencuri, bahkan membunuh. Awalnya bapak bilang semua itu ia lakukan agar aku dapat sekedar menjaga diri. Karena kehidupan di sekitar pelabuhan yang keras memaksa kami untuk menjadi sesuatu yang bisa mengimbangi hukum tak tertulis yang seakan tercipta begitu saja, yang mengatur soal perebutan kekuasaan, pemeliharaan keamanan, sampai permasalahan antar geng yang mencengkeram dan ikut andil dalam menghubungkan perputaran roda-roda kehidupan di sekitar Jakarta, yang terbagi dalam kelas-kelas dan juga strata.

Geng-geng di Jakarta, menurut bapak, adalah kelompok yang memberi pekerjaan sekaligus perlindungan pada anak-anak kecil yang miskin dan kelaparan. Yang oleh orang-orang seperti bapak diajarkan mengemis, mengamen, atau kemudian dididik mencuri untuk sesekali mengurangi pendapatan orang-orang kaya di Jakarta yang jarang sekali mau berbagi.

Hidup dalam Ironi, kota yang dibangun dari hasil jajahan dan penjarahan serta eksploitasi dari pendapatan daerah-daerah lain. Yang juga megah karena invasi bangsa-bangsa asing yang menancapkan ujung-ujung keuangannya, gaya hidup serta budayanya pada gedung-gedung tinggi yang angkuh namun berhati kecil ini, seakan digunduli oleh para pendatang dari daerah-daerah lain, atau orang-orang keturunan asing.

Menurut bapak, orang-orang yang bekerja di lantai yang lebih tinggi, yang memiliki jabatan dan penghasilan paling tinggi, biasanya adalah pendatang, orang-orang keturunan, atau orang-orang yang berasal paling dekat dari kota-kota sekitar Jakarta. Setidaknya, itu yang terjadi di lingkungan tempat tinggal kami, daerah kekuasaan bapak.

Kata bapak, yang memang bukan orang betawi, orang-orang betawi sendiri biasanya hanya membuka toko kecil-kecilan. Kata bapak, orang betawi jarang yang mau sekolah tinggi-tinggi, makannya bos-bos perusahaan yang biasa menghubungi bapak untuk membantu menjaga barang yang diimpor masuk pelabuhan dari tangan-tangan jahil, atau untuk menculik seseorang yang dianggap dapat menghalangi jalan menuju sukses partai politik tertentu, biasanya adalah orang-orang bermata sipit, atau berdialek khas luar Jakarta.

Laut

Namanya Cleo. Well, namanya sebenarnya Butet. Aku memanggilnya Cleo karena bagiku ia adalah pesona yang lahir dan tumbuh diantara suramnya aura preman-preman batak yang menguasai kampung sebelah selatan. Seperti nama seorang ratu yang dulu duduk dengan manis diantara keras dan kejamnya bangsa mesir.

Perangainya memang jauh dari yang dapat dikatakan lembut, tapi menurutku ia kuat. Tuturnya juga tak begitu halus, tapi menurutku ia tegas. Orang-orang menganggapnya kurang ramah, tapi menurutku ia berkarakter. Aku menyukai setiap sisi yang ia miliki, bagiku ia adalah dirinya sendiri. Ia berbeda dari wanita manapun yang pernah kutemui sebelumnya, dan itu yang menjadikannya menarik.

Diluar itu, orang-orang tak pernah melihatnya tertawa dan bercanda, tidak sesering aku yang banyak menghabiskan waktu bersamanya. Orang-orang tak pernah melihatnya mengungkapkan perasaan tak nyamannya, tak sepertiku yang merupakan tempatnya bercerita dan berkeluh kesah. Orang-orang juga tak pernah melihatnya menyuguhkan es kelapa atau menyajikan sesendok nasi keatas piring plastik saat makan siang. Saat-saat seperti itu, bagiku, Ia seperti lautan sejuk di utara pantai yang terik dan menyengat.

Dulu aku sering berselisih dengannya karena perbedaan kelompok. Biarpun begitu, seringkali kami terpaksa bermain bersama karena tempat kami tinggal cukup berdekatan. Awalnya aku dan dia bisa dibilang bermusuhan. Awalnya, bagiku ia adalah gadis batak gila yang gemar mengancam orang dan mengajak bertengkar. Awalnya bagiku ia bahkan sama sekali tak terlihat seperti anak gadis.

Hingga akhirnya ia terus tumbuh. Seperti pohon kelapa yang lahir dari tunas, tiba-tiba saja ia telah menjadi sesuatu yang sangat tinggi nilainya, bahkan dilingkungan preman-preman.

Muara

Aku berjalan pelan. Kaki-kakiku bahkan terhenti ketika secercah ingatan merasuk pada lembah kenangan yang tersimpan dalam-dalam. Entah apa, desa yang kumasuki membawa tawa pada pendengaranku. Kenangan tentang anak-anak bertelanjang dada yang berlarian di sekitar pematang, sawah berlumpur cokelat yang hijau dan menguning, bola yang jatuh ke sungai deras. Akh.. kenangan-kenangan yang tak mampu kuingat.

Pelarian memang merepotkan. Semalam kampungku digerebeg aparat. Aku yakin mereka mencariku. Instingku mengatakan ini akan bersangkutan dengan penculikan yang kulakukan empat bulan yang lalu. Penculikan diiringi pembunuhan ; kematian yang sebenarnya diundang si terculik sendiri. Bayaran yang tak sedikit mengharuskanku membayar dengan harga yang tak sedikit pula.

Aku sampai di sebuah desa, setelah semalaman berjalan menyusuri sungai agar tak ditemukan aparat. Entah apa yang sedang terjadi pada anak-anak buahku. Mungkin polisi-polisi itu kini tengah menginterogasi mereka dengan cara-cara brutal yang amat kukenal. Memakai pentungan atau kaki meja untuk membuat tersangka bicara adalah cara-cara kotor yang biasa mereka pakai.

Mata Air

Panas ini terik. Pasir pantai yang membara memijati kaki-kaki kecil kami yang lelah berlarian sepanjang hari. Butet membaringkan dirinya disampingku, aku masih terduduk menghadapi laut. Pemandangan dan perasaan aneh yang mempesona seakan terhampar dihadapanku, saat ini.

Aku bertemu dengannya pagi ini. Kepalaku masih terbalut perban, dan gadis batak yang baru kukenal ini tiba-tiba mengataiku orang aneh. Akupun mengejarnya yang berlari hingga pantai dekat pelabuhan. Setelah bertengkar sejenak, secara tiba-tiba kami mulai akrab. Memang, pertikaian tidak benar-benar ada dalam benak anak-anak kecil berumur empat tahunan. Ia menertawakanku atas gayaku berkelahi, aku menertawakannya yang semula kusangka lelaki.

Tiga tahun kemudian. Musim panas yang sama. Gerimis tiba-tiba turun perlahan. Bagai dewi dari khayangan yang membawa kesejukan pada pasir-pasir yang lelah memanggangi dirinya untuk dapat melupakan dosa-dosa orang yang menginjakinya.

Di pantai yang sama, butet yang semula tertawa kini nampak keheranan. “..kata bapak, hujan tak pernah turun di musim panas. Apalagi ini pantai..”

“..bapakku pernah bilang, kalau hujan turun di pantai pada musim panas, artinya seseorang yang kita sayangi tengah berlayar ke seberang, dan akan lama kembali..” aku teringat kata-kata bapakku semalam.

Malamnya, aku melihat butet terisak di luar pagar rumahnya. Bapaknya ditembak polisi. Aku menemaninya dalam hening dan bisu, tak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya. Ia, gadis yang kuat, namun rapuh, menangis semalaman hingga lelah dan tertidur diatas pundakku. Kubisikan padanya hujan tak lagi boleh turun pada musim panas.

Ia mengigau memanggil bapaknya.

***


Aku terus berlari, kali ini dikejar-kejar suara anjing. Aku ingat betul meninggalkan pakaianku yang basah oleh keringat di persimpangan setapak barusan, anjing-anjing pelacak itu sejenak akan kebingungan.

Aku terus berlari, darah dari kakiku berceceran. Kali ini mendaki bukit-bukit cukup curam dan mulai licin oleh hujan. Hutan ini seolah tertawa pada pelarianku yang pasti ia anggap sia-sia. Aku membalas menertawakan hutan dan hujan. Bagiku, mempertahankan nyawa ini cukup berharga untuk diusahakan, memperpanjangnya walaupun hanya untuk beberapa detik kemudian adalah hal yang akan sebaik mungkin kuusahakan.

Sambil berlari, terus kupegangi sebuah kalung dari sabut kelapa dengan ujung kerang yang pernah dipakaikan butet padaku. Jimat yang terkalung dileherku, kerang lautnya sedari tadi memukul-mukul dadaku. Sebagai pengingat atas suatu janji, ia bilang kalung ini harus kukembalikan suatu hari nanti.

Aku terus berlari, suara anjing-anjing itu terdengar semakin dekat. Seluruh tubuhku basah oleh hujan dan keringat. Ujung kerang laut yang kugenggam tiba-tiba basah pula oleh darah. Aku menepi ke sungai. Kerang yang bersimbah darah itu pun kini mengalir ke muara.

***

Butet duduk sendirian di tepian muara, kakinya ia biarkan bermain dengan riak arus dan aliran. Perasaannya tak menentu, seolah terasa olehnya air laut naik dipanggil matahari yang menyengat panas. Air sungai pun kini terlihat merah di matanya.

Secercah ingatan merasuk seakan-akan angin berbisik. “hujan tak boleh lagi turun pada musim panas.”

Di dua tempat yang berbeda, Aku dan Butet sama-sama mencoba tertawa.

Subang – Besançon – Wattrelos

April – Oktober 2008

Dalam hujan, ragaku terdiam

Tersapu alam, lunturkan semua luka dengan nyanyian terbungkam

Indra terawang menembus sayap utusan… Awan.

Dan jiwaku, Teriakan ancaman penuh pengkhianatan

Mungkin tak terdengar, Karena kau hiraukan ia sebagai gelegar

Dan takkan mungkin membakar

Terhempas hembusan, terpadamkan lantunan kasih sayang Tuhan

Namun angan, kian menanti sebuah jawaban…

Dalam diamnya hujan, anganku seolah teredam

Diam…

why should I be a president?

this country needs more likely of good students,

who can work out so hard to find out why does every party of this country enggaging each other,

who can make out an oath of unity, loyalty to their own beleives and to the nation..

who can serve the only one and legitime president as students

who can be part of solution, and not the source of the problems..

Saya bangga manjedi bagian dari bangsa yang besar.

Bangsa yang sebagian besar pelajarnya bekerja keras siang dan malam untuk memenuhi tenggat-tenggat pendidikan yang dibebankan oleh sistem pembelajaran yang terus menerus belajar untuk dapat mengajarkan bangsa pelajar ini agar menjadi lebih efektif dan terarah.